Untuk Ratna Sari,
4 Oktober 2026
Pertama dan untuk mengawali surat ini, terimakasih Ratna. Terimakasih sudah merayakan ulang tahunku yang ke-27 ini. Seperti yang aku bilang di kemarin malam, ulang tahun menjadi yang paling berkesan dan istimewa. Dua kali Ratna merayakannya, pertama videocall di malam tanggal 15 September dan sekali lagi di hari Sabtu kemarin. Sungguh, dua kali juga aku terharu atas perayaannya. Hadiah yang Ratna berikan juga sangat berarti bagiku. Aku merasa adalah orang yang sangat spesial juga bagi Ratna. Terimakasih sebanyak-banyaknya ya Ratna ❤️
Awal mengenal Ratna, kesan yang didapat adalah bahwa Ratna itu orang yang ambisius dan rajin. Terbukti dengan menjadi peserta terbaik di kelas yang aku ajar. Disaat orang lain mendapat nilai dibawah 7 bahkan harus mengulang mengerjakan soal pendalaman, Ratna mendapatkan nilai 9. Nilai yang sangat tinggi sekali, bahkan Indanya saja tidak bisa mendapatkan nilai setinggi itu dalam sekali percobaan.
Di akhir bulan, pendataan UB mulai dilakukan, dan kebetulan di Tiumang semua UB ada di Jorong Rejosari, tempat Ratna bertugas. Sejak itu jadi lebih sering ngobrol dengan Ratna, membuat janji bertemu untuk mendata bersama. Hal yang menarik justru Ratna awalnya menolak untuk mendata bersama, itu pertama kali ada petugas yang tidak mau mendata bersama. Namun akhirnya jadi juga mendata bersama. Dari situ mulai mengenal juga sedikit banyak tentang Ratna. Ratna yang tau apa yang dia inginkan, Ratna yang berhati lembut, Ratna yang ingin pergi dari Dharmasraya, dan juga mimpi – mimpi Ratna lainnya. Komunikasi dengan Ratna juga semakin intens, tapi anehnya tidak ada bertanya soal konsep dan definisi. Ini memang Ratna sudah menguasai konsep sih sebenarnya.
Pengalaman paling berkesan dengan Ratna adalah saat mendata di Camp yang terakhir. Saat itu aku datang dengan pikiran yang kacau dan lelah. Akan tetapi kehadiran Ratna disamping saat mendata membuatku lebih tenang. Cape memang, tapi ada perasaan bahagia disana, walaupun agak khawatir saat itu karena tidak sengaja menabrak Ratna dari belakang. Saat itu juga baru sadar bahwa ada listrik statis di tangan kita saat bersentuhan mengantarkan Ratna pulang.
Selanjutnya hubungan kita makin dekat. Aku akan selalu ingat tempat-tempat yang kita singah dan lalui bersama. Semua itu adalah hal-hal yang baru buatku. Singkat kata, aku menikmati liburan bersama Ratna. Aku tidak tahu dengan pasti sejak kapan rasa suka kepada Ratna ini ada. Tetapi tiap hari makin membesar rasanya.
Kalo Ratna bertanya dimana aku menyimpan setiap kenangan bersama Ratna, aku menyimpannya di dalam lagu. Itu juga kenapa aku lebih suka lewat jalur dalam, karena aku bisa mendengarkan dengan lebih jelas dan menyimpan seluruh kenangan di hari itu. Setiap jalan pulang dari Tiumung dipenuhi oleh lagu-lagu yang aku putar saat perjalanan pulang.
Tentang apa yang Ratna inginkan, sebelum menjawab itu, aku ingin bercerita terlebih dahulu. Aku ingin Ratna mengerti mengapa pilihanku seperti itu.
Saat ini aku ingin melanjutkan kuliah terlebih dahulu. Itu bukan hanya cita-cita untukku Ratna. Itu adala janjiku kepada diriku sendiri. Janji bahwa aku akan keluar dari kemiskinan. Janji bahwa aku akan menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Janji bahwa aku akan terus berjuang sebesar apapun tantangannya.
Aku tidak dilahirkan dari keluarga yang mampu. Papa adalah seorang jenius, salah teman Papa pernah bilang kalo Papa adalah peraih nilai ujian tertinggi di NTT. Saat hendak kuliah waktu itu sebenarnya Papa akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Akan tetapi Nenek tidak memperbolehkan waktu itu. Akhirnya Papa pergi ke Jogja untuk bekuliah. Singkat cerita karena ada masalah dengan dosennya, Papa dikeluarkan dari kampus. Tetapi hal tidak membuat Papa berhenti untuk terlibat di dunia pendidikan. Dengan kemampuannya, Papa membantu banyak mahasiswa dari NTT yang berkuliah di Jogja untuk dapat menyelesaikan skripsi mereka. Papa tidak pernah mematok harga untuk mereka. Papa hanya menerima apa yang bisa mereka berikan karena mereka juga anak-anak petani dari NTT yang hidup dalam kekurangan. Papa hanya ingin membantu mereka dan melahirkan sarjana-sarjana bagi kampung halamannya.
Hal itu adalah salah satu inspirasi mengapa aku ingin menggapai pendidikan setinggi-tingginya. Sejauh-jauhnya. Tidak peduli tantangan sebesar apa yang harus dihadapi. Jadi sejak lulus dari SD, aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku melanjutkan sekolah setinggi-tingginya.
Janji itu yang aku bawa saat menghadapi masa-masa sulit. Saat harus berjalan kaki 30 menit untuk berangkat sekolah. Saat harus berdesak-desakan di atas bus pagi. Saat harus menahan lapar karena tidak ada uang untuk membeli makan. Saat Papa meninggal. Sekarang aku sudah mencapai titik ini, aku tidak ingin melepasakan mimpi itu.
Aku menulis ini bukan untuk dikasihani atau dipuji. Aku hanya ingin Ratna mengerti kenapa aku memilih hal itu. Mengapa hubungan lima tahun tidak berlanjut lagi. Mengapa aku akan keras kepala jika menyangkut hal ini. Aku akan memegang janjiku pada diriku sendiri.
Maka jika Ratna bertanya apakah aku ingin Ratna ada dan kita berjalan bersama, maka ya aku ingin Ratna ada. Aku ingin kita berjalan bersama. Akan tetapi aku tidak ingin perjalanan yang kita lalui membuat kita berpaling dari mimpi-mimpi dan cita-cita kita.
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.
Ada satu frasa yang aku selalu ingat dari Ratna dalam menyebutku. Pria Ratna. Ada rasa haru saat membaca itu. Ya, aku suka itu. Aku ingin menjadi Pria Ratna.
Rofin Sumarani
PS: Mungkin tulisan ini tidak rapi dan berantakan karena diselesaikan dalam satu hari agar Ratna tidak menunggu lama jawabannya. Semoga Ratna memahami apa yang aku tulis.